Tiga tahun tinggal di kota
Banyuwangi, rasanya belum mantap jika belum berkunjung ke pulo merah, sebuah
pantai yang sempat disebut sebagai “Kuta kedua”. Pantai ini terletak di Dusun
Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran; dan dikelola oleh Perum
Perhutani unit II Jawa Timur. Pantai ini ternyata juga berdekatan dengan
pantai-pantai lain misalnya pantai Pancer, pantai Wedi ireng, dan pantai-pantai
lain yang ada di lingkup TNAP (Taman Nasional Alas Purwo).
Nama Pulomerah sendiri berasal dari adanya sebuah bukit
kecil di tepi pantai yang katanya tanahnya berwarna merah, namun bukit ini
ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan hijau sehingga warna merahnya tidak terlalu
terlihat. Di bawah bukit tersebut terdapat batuan dan akan terlihat indah
ketika tertimpa cahaya matahari yang sedang tenggelam. Bukit kecil ini pun bisa
dijangkau ketika air laut sedang surut.
Nah, kali ini aku akan cerita tentang perjalanan kami
yang kali pertama ke Pulau merah, Kalau anda penasaran, siapa sih yang cerita
ini?, jawabnya adalah: “yang cerita ini adalah aku, si empunya blog ERUDITE
IFA” ^_^
. Aku dan suami berangkat dari Banyuwangi kota dengan mengendarai motor.
Mengingat ini bulan Desember (a.k.a musim hujan) dan bertepatan dengan tanggal
25 pula (a.k.a hari libur natal) maka aku mempersiapkan bekal untuk segala
kemungkinan. Jok motor sudah kuisi dengan dua mantel hujan, sebotol air minum, beberapa
snack, dan juga perkakas motor. Kami
berangkat sekitar jam 10.00 WIB pagi dan memperkirakan akan sampai di tempat
tujuan sekitar jam 13.00 WIB siang (cukup lama ya, sekitar 3 jam untuk menempuh
jarak antara Banyuwangi kota ke Pulau merah dengan jarak 72,8 km. Harap maklum,
aku tidak bisa diajak ngebut ^_^) Kami mengambil rute berturut-turut yaitu
Banyuwangi kota – Rogojampi – Srono – Jajag. Sampai di perempatan Jajag belok
kiri, lalu mengikuti petunjuk arah menuju Pesanggaran. Sesampai di Pesanggaran,
tinggal ikuti petunjuk arah (yang bertebaran dimana-mana) menuju Pulau Merah.

Sesampai di sebuah perempatan untuk belok kanan (entah di
daerah mana aku lupa), kami istirahat sejenak sambil mengisi usus dengan
semangkuk bakso. Aku agak kaget karena seporsi bakso dengan harga Rp. 8.000
isinya hanya satu buah bakso, mie, dan kuah saja; kalau mau nambah gorengan,
tahu, atau pangsit maka tinggal ambil sendiri dan harganya pun juga nambah. (pulangnya
ketika nge-bakso lagi di dekat pertigaan Benculuk eh ternyata juga hampir sama,
semangkuk RP. 10.000 cuma berisi satu butir bakso doang. Ternyata begitu ya
^_^).

Setelah kenyang, perjalanan dilanjut. Jalanan aspal yang kami lewati menuju Pulau merah cukup mulus dan nyaman. Hanya sekitar beberapa km menjelang pulo merah saja terdapat beberapa bagian jalan yang berlubang sehingga sang driver harus hati-hati. Pemandangan sepanjang perjalanan pun lumayan membuat mata menghijau dan adem. Meski belum pernah kesini, kami tidak nyasar sama sekali berkat banyaknya papan informasi arah.
Sesampai di depan area pintu masuk tempat wisata, terlihat ada beberapa tempat menginap di sepanjang kanan kiri jalan. Di pintu masuk, roda empat akan diarahkan lurus untuk menuju ke parkiran, sedang roda dua ke arah kiri. Untuk tiket masuknya ialah Rp. 8.000,-/ orang, dan tiket parkir roda duanya Rp. 2.000,-.

Setelah melewati pintu masuk, kami berkendara lurus saja untuk menemukan tempat parkir yang nyaman. Terlihat di sebelah kiri jalan terdapat Pura Tawang Alun, penginapan, kebun, dan rumah-rumah warga; sedang di sisi kanan terdapat banyak warung makanan minuman di tepi pantai. Kita bisa parkir dimana saja di area sepanjang tepi pantai, tapi tentu saja diamankan sendiri yah kendaraan dan barang-bawaannya.

Sesampai di tepi pantai kami pun memarkirkan motor dan suami sempat beli cilot (note: aku yang maniak cilot, dan suami selalu...dimana-mana ada penjual cilot istrinya langsung dibelikan ^_^). Siang itu suasana pantai sangat ramai meski sedang tengah hari dan matahari bersinar dengan amat sangat terik. Di atas bebatuan hitam di salah satu sisi barat pantai terlihat sepasang manusia kasmaran tengah berpose didepan fotografer (dari atribut dan kostumnya, sepertinya mereka sedang membuat foto prewedding), di sisi pantai yang lain ada beberapa anak kecil sedang bermain pasir, segerombol remaja foto-foto diantara ombak, ada juga pasutri yang sekedar jalan-jalan di pasir, lalu ada yang berteduh sambil bersantai di bawah payung merah, ada juga yang menggelar tikar bersama keluarga besar, di kejauhan terlihat beberapa petugas pengumpul sampah, serta dibalik beberapa pohon tersembunyi pasangan-pasangan yang entah sedang apa, sedang apa sekarang.
Kalau kami, apa yang kami lakukan?.... ah kami hanyalah pasutri biasa, tentunya kami duduk di bangku sambil makan snack yang kami bawa tadi dari rumah, lalu jalan-jalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan (kami sudah sah, jadi boleh....) lalu tak lupa poto-poto juga seperti layaknya manusia normal, hihihi...
Pasir di pantai pulau merah berwarna
putih kemerahan, dengan air pantai yang terlihat jernih kehijauan, deburan
ombaknya pun tidak terlalu tinggi.. sungguh perpaduan yang indah. Ini beberapa foto
yang sempat kuambil di pulau merah, meski potonya tak sebagus aslinya, namun semoga
dapat menginspirasi anda untuk ikut berkunjung menikmati alam ciptaan Tuhan
yang satu ini, serta memunculkan kesadaran untuk selalu bersyukur dan turut
serta menjaga kelestariannya (tsahhh...).
Tak
terasa sudah jam dua siang dan mendung mulai berarak datang, waktunya kami
pulang. Di sepanjang perjalanan pulang dapat ditemui banyak sekali warga yang
menggelar lapak di depan rumah menjual buah naga. Pekarangan rumah-rumah warga
pun juga banyak yang ditanami buah naga, dan banyak juga kebun-kebun buah naga
di sepanjang perjalanan. Bagi anda yang suka membuat jus buah naga atau
penggemar buah naga dapat beli disini nih, sekaligus bisa buat oleh-oleh
keluarga di rumah.

Hal
yang tak boleh dilupakan dari acara jalan-jalan ialah, jangan lupa mampir ke
masjid untuk sholat jika waktunya sudah tiba. Masa mampir ke warung bakso aja
sempat, mampir ke masjid hanya untuk nunut pipis?! Jangan yaa. Setelah selesai sholat
dhuhur, perjalanan kami dilanjut untuk pulang ke Banyuwangi meski ada
pemberhentian lain yang ternyata kami ampiri. Pemberhentian itu antara lain SPBU
(tentu saja), warung es degan di tepi sungai di daerah Tegalsari, lalu ke pasar
sore yang ada di dekat simpang Jajag untuk beli jajan sekaligus bahan makanan
untuk makan malam (hingga detik ini aku belum tau apa nama pasar di dekat
simpang Jajag itu, hiks).
Sekian cerita liburan kami di Pulau merah, kami datang ke pulau merah dengan penuh ekspektasi, dan kami pulang dari sana membawa kenangan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Silahkan menuliskan komentar di bawah, atau share, terima kasih..