Selasa, 28 Februari 2017

MEMBUAT WALLDECOR POLA POLYGONAL SEDERHANA DI DINDING DAPUR


Selama ini, dinding dapur kami polos los alias tidak ada hiasan apapun di dindingnya kecuali seonggok kitchen set dan cantolan-cantolan alat masak. Nah, untuk mempercantik salah satu sisi dinding dapur yang kosong maka kami mencoba membuat sendiri walldecor ala kami. Walldecor kami ini tentunya tanpa harus membeli wall sticker ataupun wallpaper yang mahal itu. Kebetulan kami punya sisa cat dinding interior merk Jotun majestic warna ungu, jadi kami akan menggunakan cat tersebut. Kami adalah penganut semboyan: hemat yang penting selamat, jadi tutorial membuat walldecor ini tentu saja ber budget rendah, dan dapat ditiru oleh siapa saja yang mau mencobanya.


Alat yang diperlukan adalah: cutter, kuas kecil, pola di kertas, pensil.  Bahan yang diperlukan: cat tembok interior, solasi kertas.
Berikut cara membuatnya:


1. LANGKAH SATU: Buat pola atau tulisan yang diinginkan. Kami membuat pola hanya bermodalkan program M.Word di netbook, cukup pilih pola polygonal dan atur ukurannya, lalu ketikkan juga tulisan yang ingin ditulis di dinding nantinya dan pilih model serta ukuran tulisannya. Setelah proses desain di netbook selesai, pola siap diprint di kertas manila / bufalo. Jika ndak mau repot - repot membuat pola, print saja gambar pola yang disukai dari internet.




2. LANGKAH DUA: Pola yang telah di print selanjutnya dilubangi bagian tengahnya sebagai area yang akan di cat nantinya (lihat gambar di bawah). Setelah dilubangi, pola ditempelkan pada dinding dan digambar memakai pensil. Ingat untuk memperhatikan tata letak, bentuk gugusan pola saat menggambar, sehingga hasilnya nanti bisa rapi dan bentuknya sesuai keinginan.




3. LANGKAH TIGA: Pola yang digambar pada dinding tadi kemudian ditempeli solasi kertas pada tiap tepinya. Tujuan penempelan solasi kertas pada tepi pola adalah agar proses pengecatan mudah dan menghasilkan bagian tepi yang rapi.
Setelah gambar pola diberi solasi kertas, maka gambar pola siap di cat dengan cat dinding. Gambar di bawah ialah proses pengecatan yang belum selesai, masih capek orangnya ^_^.




4. LANGKAH EMPAT: Setelah proses pengecatan selesai dan cat sudah kering, maka solasi kertas siap dihilangkan dari dinding. Waktu yang dibutuhkan cat dinding untuk kering bervariasi, namun cat jotun yang kami pakai cukup cepat kering (kurleb 10 menit sudah kering dan solasi bisa diangkat). Cara mengangkat solasi kertas pun ternyata ada triknya, kami pernah mencoba mengangkat solasi kering dengan cara menariknya seperti di acara tipi-tipi itu, namun banyak bagian tepi cat yang sobek ternyata. Jadi triknya adalah dengan di silet terlebih dahulu bagian tepi cat, sehingga ketika solasi kertas ditarik, maka cat bagian tepi tidak akan sobek (lihat gambar di bawah).




5. LANGKAH LIMA: taraaaa....... walldecor sudah jadi dan siap dinikmati. kami suka dengan hasil karya kami sendiri (ya iyalaaah) dan suasana dapur menjadi tidak monoton lagi. Sejak hiasan dinding ini jadi, saat melewati dapur aku sering berhenti sejenak untuk mengagumi hasil kerja kami (hahaha...narsis). Bagi anda yang tertarik membuatnya sendiri, silahkan dicoba agar suasana dapurnya jadi lebih meriah. Berbagai pola hiasan semacam ini banyaaaak banget bertebaran di IG maupun di web-web. Selamat mencoba..




ERUDITE IFA: Menikmati Hari Libur di Pantai Pulau Merah (red island), Banyuwangi





 Tiga tahun tinggal di kota Banyuwangi, rasanya belum mantap jika belum berkunjung ke pulo merah, sebuah pantai yang sempat disebut sebagai “Kuta kedua”. Pantai ini terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran; dan dikelola oleh Perum Perhutani unit II Jawa Timur. Pantai ini ternyata juga berdekatan dengan pantai-pantai lain misalnya pantai Pancer, pantai Wedi ireng, dan pantai-pantai lain yang ada di lingkup TNAP (Taman Nasional Alas Purwo).

            Nama Pulomerah sendiri berasal dari adanya sebuah bukit kecil di tepi pantai yang katanya tanahnya berwarna merah, namun bukit ini ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan hijau sehingga warna merahnya tidak terlalu terlihat. Di bawah bukit tersebut terdapat batuan dan akan terlihat indah ketika tertimpa cahaya matahari yang sedang tenggelam. Bukit kecil ini pun bisa dijangkau ketika air laut sedang surut.


            Nah, kali ini aku akan cerita tentang perjalanan kami yang kali pertama ke Pulau merah, Kalau anda penasaran, siapa sih yang cerita ini?, jawabnya adalah: “yang cerita ini adalah aku, si empunya blog ERUDITE IFA”  ^_^  . Aku dan suami berangkat dari Banyuwangi kota dengan mengendarai motor. Mengingat ini bulan Desember (a.k.a musim hujan) dan bertepatan dengan tanggal 25 pula (a.k.a hari libur natal) maka aku mempersiapkan bekal untuk segala kemungkinan. Jok motor sudah kuisi dengan dua mantel hujan, sebotol air minum, beberapa snack, dan juga perkakas motor. Kami berangkat sekitar jam 10.00 WIB pagi dan memperkirakan akan sampai di tempat tujuan sekitar jam 13.00 WIB siang (cukup lama ya, sekitar 3 jam untuk menempuh jarak antara Banyuwangi kota ke Pulau merah dengan jarak 72,8 km. Harap maklum, aku tidak bisa diajak ngebut ^_^) Kami mengambil rute berturut-turut yaitu Banyuwangi kota – Rogojampi – Srono – Jajag. Sampai di perempatan Jajag belok kiri, lalu mengikuti petunjuk arah menuju Pesanggaran. Sesampai di Pesanggaran, tinggal ikuti petunjuk arah (yang bertebaran dimana-mana) menuju Pulau Merah.



Sesampai di sebuah perempatan untuk belok kanan (entah di daerah mana aku lupa), kami istirahat sejenak sambil mengisi usus dengan semangkuk bakso. Aku agak kaget karena seporsi bakso dengan harga Rp. 8.000 isinya hanya satu buah bakso, mie, dan kuah saja; kalau mau nambah gorengan, tahu, atau pangsit maka tinggal ambil sendiri dan harganya pun juga nambah. (pulangnya ketika nge-bakso lagi di dekat pertigaan Benculuk eh ternyata juga hampir sama, semangkuk RP. 10.000 cuma berisi satu butir bakso doang. Ternyata begitu ya ^_^).




            

Setelah kenyang, perjalanan dilanjut. Jalanan aspal yang kami lewati menuju Pulau merah cukup mulus dan nyaman. Hanya sekitar beberapa km menjelang pulo merah saja terdapat beberapa bagian jalan yang berlubang sehingga sang driver harus hati-hati. Pemandangan sepanjang perjalanan pun lumayan membuat mata menghijau dan adem. Meski belum pernah kesini, kami tidak nyasar sama sekali berkat banyaknya papan informasi arah.

Sesampai di depan area pintu masuk tempat wisata, terlihat ada beberapa tempat menginap di sepanjang kanan kiri jalan. Di pintu masuk, roda empat akan diarahkan lurus untuk menuju ke parkiran, sedang roda dua ke arah kiri. Untuk tiket masuknya ialah Rp. 8.000,-/ orang, dan tiket parkir roda duanya Rp. 2.000,-.



Setelah melewati pintu masuk, kami berkendara lurus saja untuk menemukan tempat parkir yang nyaman. Terlihat di sebelah kiri jalan terdapat Pura Tawang Alun, penginapan, kebun, dan rumah-rumah warga; sedang di sisi kanan terdapat banyak warung makanan minuman di tepi pantai. Kita bisa parkir dimana saja di area sepanjang tepi pantai, tapi tentu saja diamankan sendiri yah kendaraan dan barang-bawaannya.




Sesampai di tepi pantai kami pun memarkirkan motor dan suami sempat beli cilot (note: aku yang maniak cilot, dan suami selalu...dimana-mana ada penjual cilot istrinya langsung dibelikan ^_^). Siang itu suasana pantai sangat ramai meski sedang tengah hari dan matahari bersinar dengan amat sangat terik. Di atas bebatuan hitam di salah satu sisi barat pantai terlihat sepasang manusia kasmaran tengah berpose didepan fotografer (dari atribut dan kostumnya, sepertinya mereka sedang membuat foto prewedding), di sisi pantai yang lain ada beberapa anak kecil sedang bermain pasir, segerombol remaja foto-foto diantara ombak, ada juga pasutri yang sekedar jalan-jalan di pasir, lalu ada yang berteduh sambil bersantai di bawah payung merah, ada juga yang menggelar tikar bersama keluarga besar, di kejauhan terlihat beberapa petugas pengumpul sampah, serta dibalik beberapa pohon tersembunyi pasangan-pasangan yang entah sedang apa, sedang apa sekarang.

            Kalau kami, apa yang kami lakukan?.... ah kami hanyalah pasutri biasa, tentunya kami duduk di bangku sambil makan snack yang kami bawa tadi dari rumah, lalu jalan-jalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan (kami sudah sah, jadi boleh....) lalu tak lupa poto-poto juga seperti layaknya manusia normal, hihihi...

            Pasir di pantai pulau merah berwarna putih kemerahan, dengan air pantai yang terlihat jernih kehijauan, deburan ombaknya pun tidak terlalu tinggi.. sungguh perpaduan yang indah. Ini beberapa foto yang sempat kuambil di pulau merah, meski potonya tak sebagus aslinya, namun semoga dapat menginspirasi anda untuk ikut berkunjung menikmati alam ciptaan Tuhan yang satu ini, serta memunculkan kesadaran untuk selalu bersyukur dan turut serta menjaga kelestariannya (tsahhh...). 



 




Tak terasa sudah jam dua siang dan mendung mulai berarak datang, waktunya kami pulang. Di sepanjang perjalanan pulang dapat ditemui banyak sekali warga yang menggelar lapak di depan rumah menjual buah naga. Pekarangan rumah-rumah warga pun juga banyak yang ditanami buah naga, dan banyak juga kebun-kebun buah naga di sepanjang perjalanan. Bagi anda yang suka membuat jus buah naga atau penggemar buah naga dapat beli disini nih, sekaligus bisa buat oleh-oleh keluarga di rumah. 



Hal yang tak boleh dilupakan dari acara jalan-jalan ialah, jangan lupa mampir ke masjid untuk sholat jika waktunya sudah tiba. Masa mampir ke warung bakso aja sempat, mampir ke masjid hanya untuk nunut pipis?! Jangan yaa. Setelah selesai sholat dhuhur, perjalanan kami dilanjut untuk pulang ke Banyuwangi meski ada pemberhentian lain yang ternyata kami ampiri. Pemberhentian itu antara lain SPBU (tentu saja), warung es degan di tepi sungai di daerah Tegalsari, lalu ke pasar sore yang ada di dekat simpang Jajag untuk beli jajan sekaligus bahan makanan untuk makan malam (hingga detik ini aku belum tau apa nama pasar di dekat simpang Jajag itu, hiks).


            Sekian cerita liburan kami di Pulau merah, kami datang ke pulau merah dengan penuh ekspektasi, dan kami pulang dari sana membawa kenangan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Silahkan menuliskan komentar di bawah, atau share, terima kasih..







Minggu, 22 Januari 2017

TUTORIAL: MEMBUAT VAS BUNGA ARTIFISIAL DARI PAPAN KAYU COR BEKAS

Setelah proses pembangunan rumah kami selesai, banyak papan cor yang berserakahan di teras depan. Papan cor bekas yang berserahakan tentu membahayakan bagi kaki yang lewat karena biasanya banyak paku yang masih menempel pada papan cor. Sambil membereskan teras sambil berpikir... sebuah pohon pasti perlu waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan batangnya, kan sayang jika akhirnya batang itu hanya kita gunakan sebagai papan cor, setelah itu dibuang begitu saja. Sekian lama mikir untuk memanfaatkan atau mendaur ulang papan kayu cor tersebut, akhirnya muncul sebuah ide untuk membuat vas bunga sintetik untuk ditaruh di pojok ruang tamu rumah kami. Kebetulan pojokan ruangan kami masih kosong dan perlu sebuah hiasan yang mendukung tema rumah. Vas yang kami inginkan adalah vas yang mampu menampung tumbuhan dengan batang atau bunga berukuran cukup besar, namun vas harus ramping di bagian bawahnya agar lantai di bawahnya mudah dibersihkan. 

Nah, bagi yang suka membuat kreasi dari barang bekas, kali ini kami memberikan tutorial step by step cara untuk membuat vas bunga dari papan cor bekas. Cara pembuatannya mudah, alat bahannya sederhana, apalagi kalau suami bersedia meluangkan waktu membuatkannya, hehe... ikuti langkah berikut ya.

LANGKAH SATU: SIAPKAN ALAT DAN BAHAN

Alat yang dibutuhkan ialah:
-          Gergaji
-          Palu
-          Penggaris
-          Gerinda (atau pakai amplas manual juga bisa).
Untuk bahannya:
-          2 papan cor (untuk membuat satu vas ukuran ruangan)
-          Plamir (kami memakai plamir merk Pedang)
-          Cat kayu (kami memakai cat kayu warna putih merk Emco dan juga thinnernya untuk mengencerkan cat kayu). 

LANGKAH DUA: POTONG PAPAN COR SESUAI UKURAN BERIKUT


Pertama, bersihkan papan cor dari paku yang masih menancap, dan dari sisa semen yang mungkin menempel. Setelah bersih, potong papan cor dengan ukuran panjang 70 cm dan lebar 20 cm. Lakukan hingga menghasilkan 4 potong papan dengan ukuran yang sama.
Untuk menghasilkan vas yang semakin keatas semakin besar, pada salah satu sisi panjang potongan papan tadi ukur bagian kanan kiri nya kurleb 3 cm, lalu tarik garis menggunakan penggaris ke sisi panjang lain (lihat garis merah). Potong papan tepat pada garis merah tersebut, sehingga potongan kayu nantinya meruncing, yaitu sisi kiri mempunyai lebar 14 cm dan sisi kanan lebarnya tetap 20 cm (perhatikan gambar nomor 4 di atas). Lakukan pada ketiga potongan papan hingga keempat papan tersebut berbentuk meruncing.


LANGKAH TIGA: RANGKAI POTONGAN PAPAN COR

Rangkai keempat potongan papan cor tadi membentuk kotak. Sisi kiri atau sisi yang lebarnya 14 bertemu dengan sisi kiri dari potongan lain yang ukurannya sama. Cara menyusunnya yaitu tiap sisi saling menindih dan kemudian dipaku (lihat arah garis hitam pada gambar). Setelah selesai, vas akan terlihat seperti gambar bagian kanan. Vas sudah bisa berdiri namun bagian bawahnya masih berlubang, karena itulah kita harus membuat alasnya.

LANGKAH EMPAT: BUAT ALAS VAS
Ukur bagian bawah vas untuk menentukan panjang dan lebar penutup bawahnya. Ingat, mengukurnya ialah dari dalam vas, bukan dari luar (lihat garis arna putih pada gambar). Vas punya kami memerlukan penutup dengan ukuran 10 cm x 10 cm, mungkin punya anda akan berbeda sesuai ketebalan kayu. Setelah tahu ukurannya, potong sisa papan cor sesuai ukuran tadi, lalu rekatkan pada bagian bawah vas menggunakan lem atau dipaku. Hasilnya terlihat pada gambar di atas.

LANGKAH LIMA: MEMPERHALUS PERMUKAAN VAS & FINISHING
Papan cor biasanya dari jenis kayu randu, gombong, atau kayu lainnya yang karakter serat kayunya empuk, ringan, dan tidak ada pola permukaan yang bisa ditonjolkan. Jadi, memang aslinya jenis kayu ini kurang sesuai dijadikan bahan furnitur karena tidak kokoh dan tidak artistik kalau dipajang. Makanya, sebaiknya permukaan vas dari papan cor perlu digerinda atau diamplas agar rata.
Setelah di amplas, permukaan vas diberi plamir secara merata untuk menutupi pori atau ketidaksempurnaan pada permukaannya. Gambar di atas ialah proses penggerindaan dan pemolesan plamir.

Setelah plamir dibiarkan selama sehari atau sampai kering, baru di amplas secara perlahan agar permukaan vas rata. Coba tes rata atau tidaknya permukaan dengan meraba permukaan, kalau masih kasar ya amplas lagi sampai rata. Proses pemberian plamir dan pengamplasan bisa dilakukan dua atau tiga kali, tapi kalau malas ya sekali saja cukup kok.
Berikutnya, lakukan pengecatan menggunakan cat kayu yang diencerkan dengan thinner. Kami menggunakan cata kayu warna putih, tapi agar menarik bisa juga menggunakan cat kayu warna coklat tua atau pelitur. Pengecatan bisa satu hingga tiga kali sesuai selera. Gambar kanan merupakan vas yang sudah di cat dengan cat kayu warna putih.

LANGKAH ENAM: PEMBERIAN TUMBUHAN



Dan taraaa...inilah hasilnya, vas bunga dari kayu papan cor bekas sudah jadi dan siap digunakan untuk meletakkan bunga sintetik atau ranting atau hiasan lain. Langkah selanjutnya tinggal ke toko untuk beli tumbuhan dan rumput sintetik, lalu dipasang di vas, kemudian taruh deh vas tersebut di pojok ruangan. Sekedar saran nih, vas tersebut tidak kami anjurkan untuk menanam tumbuhan asli atau sungguhan karena vas yang terbuat dari material papan cor tidak akan terlalu kuat menahan tekanan akar; ataupun rentan rusak terkena air. 

Selanjutnya kami akan membuat tumbuhan sintetik sendiri, jadi tunggu tutorial kami berikutnya yaa. Nah, sekian tutorial dari kami, semoga bermanfaat dan selamat berkarya mendaur ulang bahan bekas di sekitar kita. Tidak ada barang bekas yang tidak berharga...temukan manfaatnya dan anda akan menjadi orang kreatif serta bermanfaat bagi lingkungan.